Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Followers

RSS

Cara mencegah TSUNAMI


Metode Mencegah Tsunami Dengan Laser


Gempa dasyat yang telah terjadi di tanah air menimbulkan tsunami dengan tenaga penghancur yang hebat dan memorak porandakan kehidupan di propinsi Aceh dan sekitarnya. Rasa ikut berduka yang mendalam kami sampaikan kepada para korban bencana ini.
Dalam kesempatan ini penulis hanya akan mengungkapkan sedikit mengenai bagaimana mendeteksi dan mengukur besarnya gelombang Tsunami memakai laser Tsunami sensor (Sakata method) dan kemungkinannya dibuat sendiri di Indonesia.
Tsunami selama ini dideteksi dengan sensor yang terbuat dari kristal (Oscilator). Prinsip dari sensor ini adalah apabila kristal oscillator berosilasi pada frekuensi tertentu mendapat tekanan dari arah sumbu oscilasinya maka frekuensi oscillator akan berubah. Perubahan frekuensi ini sebanding dengan tekanan yang diberikan, dimana tekanan ini juga sebanding dengan tingginya tsunami. Prinsip ini sudah lama dipakai misalnya untuk memantau tsunami disekitar Jepang dan samudera Pasific. Banyak kendala yang dihadapi antara lain tsunami sensor harus dipasang jauh dari pantai, sehingga perlu pengiriman supply listrik kedalam sensor, jarak tempuh (beberapa Km dari pantai) juga akan memberikan gangguan noise yang besar pada sinyal saat sampai di pemantau (darat).
Dr Sakata peneliti ahli Tsunami dari The National Research Institute for Earth Science and Disaster Prevention (NIED), Japan, telah menciptakan metode baru dengan memakai laser. Methode ini sangat sederhana dan sangat sensitive sebagai sensor Tsunami maupun sensor tekanan. Disamping itu alat ini terbebas dari noise karena yang terkirim ke sensor yang berada jauh dari pantai adalah cahaya laser melalui fiber optik sedang seluruh perangkat elektronik diletakkan di darat.

Prinsip dari Laser Tsunami sensor
Sensor utama berupa dua buah optical cavity dengan Free Spectral Range sama. Masing masing Cavity ini terbentuk dari dua buah cermin yang terpisahkan dengan jarak Lc dan dipasang bersilang (Sumbu X dan sumbu Y). FSR didifinisikan sebagai FSR=C/2nLc, dimana C adalah kecepatan cahaya (m/det), n adalah indek bias medium (=1) dan Lc adalah jarak antara dua cermin.
Cavity ini hanya akan memberikan peak transmisi bila frekuensi laser bersesuaian (beresonansi) dengan FSR dari cavity. Kemudian Cavity dimasukkan kedalam tabung selinder yang terbuat dari bahan tak berkarat (Stenless) dimana masing masing cermin dikunci dengan dinding tabung. Bentuk bagian dalam dari dibuat sedemikian rupa sehingga ada beda tebal dari dinding selinder pada arah x dan y.
Apabila diding tabung terkena tekanan akibat gelombang Tsunami maka Lc akan berubah yang mengakibatkan FSR dari cavity berubah. Perbedaan tebal dinding juga mengakibatkan perbedaan perubahan panjang dari cavity 1 dan cavity 2. Perubahan ini yang dideteksi lebih lanjut dengan beat frekuensi dari dua laser yang masing masing frekuensinya terkunci (Locked) pada dua cavity tersebut. Perubahan frekuensi sebesar 12MHz dideteksi untuk setiap perubahan tsunami 1 cm. Untuk jarak antara dua cermin sebesar 10 cm, maka FSR dari resonator kira kira sebesar 6 GHz, sehingga akan bisa mendeteksi tsunami yang tingginya mencapai 5 m.
Besarnya tsunami yang dapat dideteksi bisa diperbesar dengan memperbesar jarak 2 cermin atau memperetebal dinding tabung. Jarak sensor ke darat dapat mencapai 50-100 km tergantung daya laser yang dipakai. Dengan jarak sensor 100 Km dari pantai juga memungkinkan utuk memberi peringatan dini lebih dari puluh menit ke darat bila dibagian sensor terjadi tsunami.
Sejauh ini tsunami sensor bukan merupakan produk yang banyak terjual dipasaran karena biasanya pemakai adalah pemerintahan (badan penelitian), sehingga harganya cukup mahal. Penulis telah ikut menyelesaikan protype kedua dari Laser tsunami sensor yang sekarang terpasang di salah satu pengamatan tsunami Jepang di Hiratsuka.
Dari segi teknologi sensor ini bukanlah hal yang susah sehingga 100 isa dibuat (dirakit) di Indonesia. Tentu hal ini membutuhkan support dari pemerintah untuk semaksimal mungkin memanfaatkan potensi SDM dalam Negeri. Bila hal ini bisa terlaksana tentu akan bekerja sama dengan Dr Sakata , OPTOCOMB Inc. dan Akashi Inc. sebagai penemu dan pengembang alat ini. Memang seperti pernah tertulis pada harian Kompas bahwa masalah Tsunami bukan hanya sensor, tapi sensor juga merupakan komponen penting dari system monitoring Tsunami. Bila sensor diletakkan jauh dari darat maka sedikitnya bisa memberikan peringatan dini sebelum Tsunami tiba.


Sumber : Berita IPTEK (17 Januari 2005)
Penulis : Bambang Widiyatmoko (P2 Fisika LIPI)
Sumber : http://intra.lipi.go.id/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Poskan Komentar